Recently

RecentlyI’ve been going to work in the morning, passed all day in office, praying in some break time they allowed me to, then when I reach home it’s the next day already.
I wonder if all my day would be like this. It’s not that I hate it, i do love my job. I’m just thinking about how can I spare my time to be more focus on hereafter.. 
They say work is only like a “killing time” to wait for the praying time. But if it turn out like this.. ?
When our time in this world, is keep on decreasing while our time to think about, or prepare for the hereafter won’t take our excuses too…
Let’s just hope that what we are doing now, whether it’s working or studying, would be worth it and can be appreciated as our devotion to Allah, aamiin.

I hate it (2)

So I think I would better write all my thoughts down here before I’ll explode.

I hate it

I hate it when I woke up late, moreover because I can’t manage my own daily-life schedule. I tend to sleep after fajr prayer because I’ll skip it when I tried to sleep before it. 

Which finally made me awake for longer time, torturing my body with less than 4hours sleep most of day

I’ll hate it even more when I was overslept and miss the fajr too

But I don’t want to hate this prayer systems. Just a weakling me.
I hate it

I hate it when I can’t caught up with the train that will bring me on time to my destination. Here in Japan, they have given me such a punctual time table and many trains in every 3 to 5 minutes

What am I able to complain?

I hate it when there’s an old woman/man or a pregnant woman who deserve to sit in the priority seat but the youngster ignore them as they pretend to sleep or face down to their phones

I hate the me who is too afraid to notice them too. I did it few before and they sometimes refuse or giving an annoyance face

I hate it when there’s an incident in the train’s track. I do really mean it, if that was a suicidal attempt. Why they have to choose this line? Why they have to give disadvantage to a lot of people? Why they decide to do so? Why choosing to die while so many out there struggling to live?

I hate how people here who’s in most of the time seems so ignorant to each others. (not to forget the caring and good ones too)

They often be in silence, gazing on their own phones or PC screen. 

Just like me now, throwing some of my hatred.

Because I just found that maybe ‘hate’ is not always bad. 

I hate it

I hate it.

I hate it when I want to speak or write something, but I was too concerning about others thoughts which make me stop to speak up my mind.

I hate the way I always doing it and finally regret it too

I hate myself who’s thinking that way too

Which become one of the reason why I hate myself. 

I wonder

Will this hate continues?

How I get my first ‘hijab’

Assalamu‘alaikum

Ohisashiburi ^^

atau lebih tepatnya, lama tak jumpa hei kamu blog yang kadang-kadang terurus dan banyak terbengkalai. Sudah lama absen dari kegiatan tulis menulis blog sejak pekerjaan ‘sedikit’ menumpuk dan baru saja bulan Ramadan berlalu. Tolong anggap ini sebagai alasan yang bisa dimaafkan, hehehe

Jadi di post ini aku ingin mencoba bercerita tentang bagaimana pertama kali aku memutuskan untuk memakai hijab. Mungkin bagi sebagian orang, terlihat seperti bukan hal yang besar dan berarti… tapi ‘hijrah kecil’ ini benar-benar mempunyai arti tersendiri untukku secara pribadi 😉

Aku yakin pasti diluar sana ada banyaaak sekali berbagai macam cerita dan latar belakang seseorang sebelum membulatkan niat dan memutuskan untuk mengenakan pakaian dan penutup aurat ini, mulai dari yang simpel hingga yang dramatis sekali.

Nah disini aku ingin ikut menyumbangkan suara ceritanya, sekedar untuk berbagi dan memberi tahu kepada seluruh orang yang berkenan membaca post ini, untuk memperluas pandangannya terhadap ‘perempuan dan hijab’, setidaknya dari kacamataku.

Sebelumnya terimakasih juga kepada saudariku, Rika, yang menjadi salah satu dorongan untuk akhirnya menjadikan tulisan ini. (Maklum, sering tidak bisa bekerja kalau belum dikomporin, ^^) Sekian prolog yang panjang ini, mari kita masuk di inti cerita!

————


Akhir bulan Ramadan tahun 2015.

Adalah tepatnya waktu aku mulai untuk memakai hijab.Berarti sudah hampir setahun ‘riwayat’ ku dengan kain yang menutup kepala ini, benar-benar masih waktu yang pendek. Bahkan banyak teman yang sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba dengan muka yang -entah kaget atau terkesima- sering mengatakan “Lho, kamu sekarang sudah berhijab?”

Saat itu aku yang sebenarnya merasa sudah cukup lama memakainya dan tidak jarang juga muncul di social media dengan penampilan ini cuma bisa menjawab “Iya, insyaAllah. hehe” (setelah dipikir-pikir ini jawaban yang ambigu yah)

Awalnya aku memang tidak secara besar-besaran mengatakan bahwa aku sudah pakai hijab. Mungkin saat itu tidak tahu mau ngomong apa, dan guna nya untuk apa juga. Jujur saat mau post foto misalnya, terbayang akan ada komentar yang tidak bisa aku jawab atau malah memberi ‘apresiasi’ yang berlebih, alhasil membuatku mengurungkan niat tsb. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, tidak ada salahnya juga sedikit menunjukkan atau menuliskan hal-hal baik yang terjadi pada diri kita kan ya? Siapa tahu hal baik akan menular ke orang lain juga, kan x)

#siapatahu ?

Beberapa hal atau alasan yang memperkuat niatku untuk berhijab, berikut pikiran positif negatif yang membimbangkan hati, juga perubahan atau hal yang aku rasakan setelah berhijab akan kutulis per sub-judul  disini. Selamat membaca~
————

The story behind

I have no identity

Kehilangan identitas alias jatidiri. Salah satu hal terbesar yang membuat aku tergerak. Datang ke Jepang, negeri dengan penduduk muslim yang minoritas ini mungkin memang sudah takdir yang direncakanNya.  Takdir yang membawa aku ke arah yang lebih baik, baikyang terlihat, kasat mata dan spiritual. Ada banyak hal yang aku syukuri karenanya. Ternyata benar, hidup dalam minoritas dimana masjid / tempat solat dan makanan halal tidak bisa ditemukan dengan mudah, juga sedikitnya orang-orang yang mengenal budaya Islam justru memperkuat jalinan persaudaraan dan keimananku disini, alhamdulillah…

Yang menjadi masalah adalah, aku tidak punya ‘identitas’ atau simbol yang menyebutkan bahwa aku adalah seorang muslim. Aku sering sekali melihat orang berhijab di Jepang, dan mencoba untuk menyapa mereka saat berpapasan di jalan. Tapi kadang apa yang kudapat bukan “Waalaykumsalam” tetapi ekspresi aneh/kaget.

Aku yang tidak berhijab, dulu tidak ada bedanya dengan orang lain pada umumnya. Tak jarang, ada yang mengira aku adalah orang Jepang. Itulah kenapa orang yang kusapa pun mungkin tidak mengira bahwa aku adalah orang Indonesia, terlebih lagi muslim.

Kasus lainnya adalah, saat memperkenalkan diri pada teman orang asing yang tidak terlalu mengenal budaya Islam atau variasi muslim di Indonesia, misalnya. Mereka akan bertanya-tanya, “Kamu muslim dan dia juga. Tetapi kenapa dia memakai penutup rambut (hijab) sedangkan kamu tidak?”

Silahkan bantu saya berfikir bagaimana cara menjelaskannya dengan baik dan jelas pada orang tersebut. hehe. Tentu saja teman lain yang berhijab itupun menjadi bingung dan terjadilah suasana awkward diantara kami.

Feeling uncomfortable

Merasa tidak nyaman. Hal ini, kurasakan secara bertahap. Awalnya, aku yang dulu sangat suka memakai rok atau dress dengan panjang selutut, lama-lama merasa bagian kaki yang terbuka ini terasa aneh. Begitu juga lengan baju yang pendek, celana jeans yang tidak tertutup baju panjang, dan sebagainya.
Mungkin aku sedang menyadari ‘efek samping’ dari tinggal di Jepang yang sangat bebas menunjukkan selera fashion nya ini. Aku seperti bercermin saat melihat (maaf ya) perempuan disini yang suka memakai rok atau celana super pendek, baju terbuka yang terlalu memperlihatkan kulit, dsb. *_*
Rasanya itu…
“Aku saja yang cewek lumayan ‘ngeri’ melihatnya. Apalagi para cowok? Gimana selama ini orang2, cewek ataupun cowok melihat aku?”
Yah semacam itu..
Perasaan tidak nyaman ini tidak hanya untuk diri sendiri saja, tapi sebaliknya untuk para ikhwan (laki-laki muslim, red). Misalnya, aku sedang ke masjid atau ikut acara pengajian / perkumpulan dimana ada cewek dan cowok membaur di suatu ruangan, tanpa hijab tentunya. Entah kenapa rasanya keberadaanku disitu memunculkan perasaan bersalah. Yup, feeling guilty akibat memperlihatkan yang seharusnya tidak mereka lihat. Seperti menambah dosa orang yang tidak bersalah. Jadi sering merasa saltum dan salting deh ._.

Afraid of going outside

Apa yang aku rasakan sebelumnya, naik tingkat menjadi rasa inferior dan sedikit rasa takut untuk pergi keluar dari kamar. Aku jadi lebih “menahan diri” untuk tidak pergi kemanapun, tidak dengan penampilan dan perasaan campur aduk seperti ini.

Sering tidak bisa tidur semalaman, lalu berpikir atau melamun.

Pagi hari, kebingungan saat memilih akan memakai baju apa. Perasaan rumit yang tidak bisa diceritakan pada siapa-siapa. Habisnya aku sendiri tidak tau lagi merisaukan apa, hehehe

Pernah, rasa tidak tenang ini benar-benar memuncak dan mendorongku untuk menelpon mama dirumah. Ingin curhat, tanya pendapat, pokoknya semua unek-unek di hati ini ingin dikeluarkan. Tapi alhasil, topik itu tidak bisa dikeluarkan.. Mungkin memang tidak dengan telepon genggam. Pasti ada banyak hal yang tidak tersampaikan, dan malah membuat mama ku bingung juga. Aku sadar, hal seperti ini harus diselesaikan sendiri.

I lost to a child

Kalah. Dengan anak kecil pula.

Sebenarnya ini bukan masalah kalah menang dan perbandingan sih. Tapi, mungkin apa yang ditulis di kartun/lelucon meme yang sering beredar itu benar. Ketika ada anak yang sudah sedari kecil memakai jilbab, rasanya miris sendiri melihatnya.

Muncul pikiran seperti..

“Pastilah dia dipakaikan jilbab oleh orangtuanya. Tentu bukan pilihan mereka sendiri. Tapi mereka menurut dan memakainya dengan senang hati. Bermain dan tertawa, tanpa peduli dengan pakaian atau apa yang mereka pakai.

Kenapa dulu orang tua ku tidak memaksa aku memakai jilbab saja, ya? Jadi aku tidak perlu bingung seperti ini…”

Pikiran-pikiran mengambang yang membuat aku menyadari apa yang harus dilakukan saat menjadi orang tua nanti.

Just want to get better

Siapa yang tidak ingin jadi lebih baik. Dosa dan kesalahanku banyak dan tak terhitung. Bahkan tiap hari masih banyak dosa baru atau kesalahan yang terulang-ulang lalu semakin menumpuk.

Kalau saja ada cara untuk mengurangi jumlah dosa itu barang sedikit saja…

Hal yang menghilangkan rasa tidak nyaman, rasa bersalah, sekaligus bisa menambah motivasi dan menuntun kearah yang lebih baik.

Jawabannya sudah diketahui sejak lama, tapi aku hanya pura-pura buta dan tuli untuk menghiraukannya.

Memang dia tidak akan muncul meski ditunggu, dia harus dijemput sendiri.

If I were die tomorrow…

Poor my dad. Ayahku punya anak perempuan banyak. Semuanya perempuan malah. Belum lagi dia punya istri, istri, saudara perempuan dan tentu seorang ibu (alharhum nenek). Coba bisa dibayangkan betapa berat tanggung jawabnya nanti di sana? 😦

Aku ngerasa udah terlalu banyak tambahan dosa yang aku sumbangkan. Kalau ada cara untuk mengurangi biar sedikiiit saja, yang bisa (atau memang sudah seharusnya) aku lakukan, ya dengan berhijab ini. Tidak perlu menunggu sampai punya suami dulu, karena subjek masalahnya sudah lain.

Karena kita tidak tahu kapan kita masih punya waktu untuk berubah, apa kita masih hidup besok, atau bulan depan, atau beberapa tahun lagi…

Ada yang bilang ketika menikah semua dosa kita akan ditanggung oleh suami.. Tapi sebelum itu? Ayah yang menanggung bukan?

Lalu kalau sebelum itu aku sudah dipanggil?

Satu helai rambut dan aurat yang terlihat, akan menjadi api yang membakar di neraka. Iya, neraka yang katanya api nya beribu-ribu lebih panas itu.

Selama ini aku selalu takut untuk memikirkan hal-hal yang ‘tidak mengenakkan’ seperti itu. Tentang hukuman dicambuk lah, ditarik lah… Memang tidak ada yang akan pernah tahu. Tapi pura-pura tidak tahu tidak akan merubah apapun juga. Dan misal, misalkan semuanya itu tidak benar sekalipun, aku merasa tidak dirugikan dan sudah “bertaruh” di jalan yang benar.

The decision

Dari sekian banyak pikiran yang mendorong ku untuk maju, tentu saja ada banyak yang membuat ku selalu enggan memutuskannya.

Ada banyak hal

-takut dengan tanggapan orang lain

-takut dengan berhijab tidak akan bisa part time atau bekerja/beraktivitas normal disini

-takut dengan pertanyaan orang-orang, kenapa tiba-tiba berubah?

-takut tidak bisa bersenang-senang dengan pakaian yang aku suka lagi

-takut tidak bisa menjaga nama baik atau bersikap sebagai seorang muslimah, setelah ‘membawa’ simbol Islam itu sendiri

-takut karena merasa belum pantas

-dan masih banyak lagi ketakutan lainnya..

yang sebenarnya hanya pikiran negatif yang aku buat sendiri. (Mungkin dengan sedikit tiupan dari setan yang jahat juga, :))
Kenyataan nya adalah..
Tanggapan teman-teman tidak seburuk dan menjawab pertanyaan mereka pun tidak sesulit yang aku kira.

Aku tetap bisa part time (saat itu di toko baju Uniqlo, dengan posisi sekkyaku atau berhadapan langsung dengan tamu) dan crew serta kepala toko pun mendukung. Bahkan banyak pengunjung yang lebih respek dan sekedar memberi semangat. (Maklum langsung terlihat sebagai orang asing, pakai jilbab terlihat lugu pula hehe)

Aku juga semakin banyak bertemu dengan bermacam orang atau bisa mendatangi acara-acara dimana mereka membutuhkan perempuan berhijab, merasa bisa sedikit membantu deh. Kesempatan untuk memperkenalkan Islam kepada yang awam pun semakin luas. Disapa atau disenyumi saat bertemu muslimah yg lain pun bertambah.

Aku tetap bisa pakai baju-baju yang aku suka, dan tidak perlu bingung lagi. Yang penting tertutup! Tidak jarang dapat pujian dari orang Jepang tentang kain jilbab warna-warni yang harganya selembar cuma 10rb ini. Oshare datte. (stylish katanya) Ehehe

Secara tidak sadar, perilaku pun jadi lebih terjaga dengan “penampilan” ini. Berfikir lebih jauh kalau akan diajak ke acara nomikai (minum-minum bir dll di restoran), saat di kereta, atau di sekolah/tempat kerja. Masa’ mau membuat orang berpikiran jelek tentang Islam atau cewe berhijab? Jadilah aku sekarang berusaha terlihat ‘lebih baik’

Apapun alasanya, selama memang itu hasilnya membawa ke kebaikan oke oke saja kan ^^

Dimulai dari coba-coba memakai jilbab sehari penuh saat acara di bulan Ramadan.. Aku yang pertama merasa aneh dan parno sendiri (kaya dilihatin orang), jadi terbiasa dan tidak ingin melepas jilbab sampai kembali masuk kerumah.

Akhirnya aku ‘berhijrah’ bak berkah di bulan suci lalu. Alhamdulillah …
————
Epilog

Awalnya aku bukan tipe yang suka menggurui, apalagi digurui. Tapi jika post ini bersifat menggurui, aku mohon maaf sebesar-besarnya. Karena tidak ada maksut seperti itu, hanya share dan sedikit curhat, kok. 🙂

Tapi bila ada yang terketuk dan mau ikut berpendapat disini, silahkan! Lebih baik saling terbuka dan mengungkapkan apa yang dirasakan, kadang ada hal yang tidak bisa ditangani sendirian, ya kan ^^

Detik ini pun, aku merasa masih jauuuuuuh sekali dari kata baik. Tapi, aku merasa benar-benar lebih baik, setidaknya dari aku satu tahun yang lalu. Terima kasih untuk semua yang sudah menguatkan, menerima, dan pernah datang. Terima kasih untuk semua yang membuat aku jadi aku yang sekarang.

Ayo bagi cerita kalian juga ya, hehe
Akhir kata

Waalaykumsalam warrahmatullahi wabarakatuh 🙂

 

 

 

*Tambahan*
Dituliskan pada Agustus 2018.
Teruntuk “Ami”, di suatu saat di masa depan di tahun kapanpun.

Halo kamu yang merasa senang karena baru saja melewati 3 tahun bersama hijab! Dan mungkin kamu yang akan membaca ulang blog ini lagi suatu saat, entah kapan, mungkin untuk beberapa tahun kedepan dan seterusnya.

Bagaimana kamu sekarang?

Semoga kamu terus berjalan kedepan biarpun dengan langkah yang kecil dan pelan. Menjadi kamu yang lebih baik dari sebelumnya. Ingat, tidak perlu membandingkan dengan orang lain. Setiap orang punya cerita dan pace nya masing-masing. Jadikan motivasi, semangat memperbaiki diri lagi! Jangan berkecil hati, ok?

Kamu yang sekarang, masih tidak terlalu berubah.

Masih suka menggunakan sebagian besar waktu (selain bekerja) untuk menggambar, dengar musik, lihat film/anime, main, dan banyak lagi hal yang mengarah ke keduniawian x’)

Bisa lancar plus memperbanyak waktu untuk membaca AlQuran, lebih sabar, lebih menjaga mata, lisan, perbuatan, juga bermacam harapan yang ingin dicapai… saat ini hampir belum terwujudkan. Ayo semangat x’D

Semoga kamu masih diberi waktu olehNya. (dan juga keluangan untuk menulis lagi) aamiin..

Sampai jumpa !

Kamus Aksesoris Kimono

Kimono selain memiliki sejarah dan nilai dan prestis yang tinggi, juga memiliki banyak sisi menggagumkan (atau mengherankan) juga. Seperti misalnya aksesoris alias barang-barang sampingan lainnya yang dibutuhkan saat akan memakai kimono. Untuk menjadi satu kesatuan kimono yang cantik dan rapih, ternyata diperlukan minimal barang-barang dibawah berikut.

Ada apa saja sih? Nah, silahkan cek dibawah ini ^o^

Obi

32

Obi (帯 – おび)
yaitu sabuk/belt yang paling mencolok dan selalu menjadi poin dalam koordinasi lengkap kimono. Materialnya cukup kaku dan ada berbagai cara mengikatnya. Beberapa janis obi yang terkenal adalah Nagoya Obi 名古屋帯, Hanhaba Obi 半幅帯, dan Fukuro Obi 袋帯.

  • Nagoya obi memiliki kelebihan : mudah diikat/dikencangkan, sehingga sering digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Meski jarang dipakai di tempat/event formal, dia memiliki motif dan warna yang cantik. Nagoya obi ini juga mudah dipasangkan jadi bisa dibuat berbagai macam model yang ikut mengubah style kimono yang dipakai.
  • Hanhaba obi, sesuai namanya hanya memiliki lebar setengah dari obi biasa. Biasa dipakai saat mengenakan haori (mantel khas Jepang) sehingga tidak terlalu terlihat dan mudah dikenakan. Karena kepraktisannya, obi ini jadi sering dikombinasikan dengan pakaian biasa bergaya kasual dan sangat cocok untuk pemula.
  • Fukuro obi biasa disebut obi yang formal. Meski susah dikenakan hal itu menjadi kelebihannya yang memang elegan dan bisa menhasilkan obi yang indah. Obi ini sering dipakai ke event penting dengan kimono tingkat atas seperti houmongi, tomesode, dll. Dengan panjang normal sekitar 4m, kimono apapun bisa terlihat lebih prestis dan cantik dengan bermacam-macam cara mengikatnya.

Nagajuban, hadagi, koshihimo

22

  • Nagajuban dan hadagi (長襦袢、肌着)
    kedua item ini adalah dalaman/inner yang dipakai saat memakai kimono. Hal ini juga yang membedakan kimono dan yukata yang bisa dipakai langsung di kulit.
  • Koshi-himo (腰紐 – こしひも)
    harafiahnya “tali pinggang” yaitu tali dari kain tipis yang digunakan untuk mengikat kimono sebelum ditutup/dirapikan oleh obi

 

Date jime, Obi ita, Obi jime, Obi dome, Obi age

2123

  • Date-Jime (伊達締め – だてじめ)
    kain tipis lain yang diikat diatas koshihimo, berfungsi untuk melindungi kain/fabric kimono
  • Obi-ita (帯板 – おびいた)
    Bentuknya seperti lempengan keras yang ditaruh dibalik obi, agar bentuk dan permukaan obi rapi dan kokoh
  • Obi-jime (帯締め – おびじめ)
    Tali dekoratif yang memiliki berbagai macam bentuk, diikat diatas obi sebagai aksen dan menjaga obiage tidak berubah-ubah
  • Obi-dome (帯留め – おびどめ)
    Hiasan/aksesoris ditengah obijime, ada banyak bentuk dan ukuran, berfungsi sebagai pelengkap dan mempermanis penampilan
  • Obi-age (帯揚げ – おびあげ)
    kain yang bisa dibuat kombinasi dan diikat dengan berbagai bentuk seperti pita dll. Sering terlihat muncul diantara kimono dan atas obi

Aksesoris lainnya

kyototower3

  • Zouri (草履 – ぞうり)
    Sandal tradisional Jepang yang dipadukan dengan tabi (kaus kaki bercabang dua) saat memakai kimono. Terbuat dari bermacam bahan seperti jerami, kayu, dll
  • Kinchaku fukuro (巾着袋 – きんちゃくふくろ)
    Tas yang lebih mirip dompet/pouch kecil, berbentuk simpel dengan tali draw-string dan biasa bermotif khas Jepang
  • Bangasa (番傘 – ばんがさ)
    Payung ala Jepang yang memiliki banyak rusuk dan sangat kuat. Ada juga yang terbuat dari kertas atau hanya sebagai hiasan
  • Kanzashi (簪 – かんざし)
    Hiasan rambut ala Jepang yang memiliki bentuk khas, cara pakai serta arti tersendiri. Ada berbagai jenis seperti sirkam, tombodama, bunga tsumamizaiku, dll

 

 

Nah kira-kira itulah tadi aksesoris “kecil” pelengkap kimono yang tentu terbayang betapa detailnya orang Jepang saat memakai pakaian adat mereka ini.

informasi artikel ini didapat di website aslinya yang berbahasa Jepang. untuk yang ingin lihat-lihat seputar kimono yang lain bisa cek di link berikut, jya naa ^^

Facebook Page Kimono Rental Wargo

Kimono Rental Wargo website

instagram : @kyotokimonorental.id

How I end up in Japan

Disini aku ingin menceritakan bagaimana aku bisa sampai di Jepang.

Tapi karena kurang begitu pandai merangkai kata-kata dan terlalu banyak yang ingin disampaikan malah membuat runyam, kemungkinan hasilnya hanya akan berupa ringkasan kilat yang “bolong” disana sininya.

Jadi insyaAllah post ini mungkin akan diperbaiki sedikit demi sedikit sambil menjawab beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan teman-teman yang penasaran atau ingin tahu bagaimana caranya ke Jepang, atau butuh saran dan ingin gambaran tentang kehidupan di Jepang.

Bila setelah membaca post ini ternyata masih ada yang belum jelas atau belum dibahas, bisa usulkan / tanyakan langsung ke Fb atau komen disini. Saya harap sebelum pertanyaan itu keluar, sudah ada usaha mencarinya kesana kemari, dipikirkan, dan kalau ternyata memang tidak ditemukan titik terangnya, barulah saya juga dengan senang hati akan sebisanya membantu.

Nah.. monggo, douzo, silahkan ^^

 

Bagaimana bisa sampai ke Jepang?

Saya mendapat beasiswa dari pemerintah Jepang (MEXT/MONBUKAGAKUSHO). Informasi tentang beasiswa ini sendiri didapat dari senior SMA dan sensei bahasa Jepang di SMA. Beasiswa ini memakai nilai SMA untuk program D2, D3, dan S1. (Ada juga untuk S2,S3,atau untuk murid pembelajar dan guru bahasa Jepang. Yang ini saya kurang paham programnya). Program untuk lulusan SMA/sederajat hingga umur 22 tahunan ini biasa dibuka setiap tahun di bulan Mei-Juni, untuk lebih lengkapnya silahkan cek websitenya disini :

link mext/monbusho Indonesia

 

Program apa yang saya ambil?

Saya mengambil program D2 / Professional Training College.

Jurusan Fashion Creation. (bisa dibilang sesuai dengan yang saya tulis di form pendaftaran; yaitu Harmony dressmaking atau Fashion design)

 

Tes apa saja yang harus dilalui?

Seperti yang dijelaskan di website beasiswa di link tersebut.

Secara singkatnya yaitu :

Tes formulir >>  Tes tertulis >> Wawancara >> Visa >> Fix ke Jepang

 

Tips untuk melalui tes-tes ini?

Berusaha, dan doa. Dulu saya berpikir kemungkinan untuk lolos sangat kecil. Jadi saya tidak terlalu berharap banyak dan untuk berjaga-jaga tetap mendaftar di Universitas di Indonesia. Tetapi bukan berarti saya tidak all out (boleh lah dibilang begitu), Disini akan saya tulis beberapa tips juga kesan dalam mengikuti tes ini versi saya di tahun 2012 tsb.

>>> Tes formulir : tulis dengan rapi dan benar/teliti. Semua kolom yang diisi jawaban panjang, benar-benar saya pikirkan dan dicek berulang-ulang. Saya juga meminta guru les bahasa Inggris untuk mengecek tulisan saya karena memang tidak pede. Tips nya : tuliskan betapa semangat dan seberapa besar keinginan untuk belajar di Jepang. Materi juga harus dikuasai karena bila lolos akan dibawa sampai wawancara, juga menentukan sekolah yang kita dapatkan disini.

(tahun 2012 ada sekitar 8000 peserta dan yang lolos sekitar 800-1000)

>>> Tes tertulis : Belajar. Istirahat cukup. Tenangkan pikiran. Jangan nervous. Banyak latihan soal-soal di tahun sebelum. Dan yang paling penting… berpacu dengan waktu!! Setelah lolos tes formulir, akan semakin banyak yang digugurkan di tes ini. Jadi kerahkan kemampuan sebisa mungkin ya… Banyak yang lolos di tahap ini juga, jadi mungkin ada faktor “luck” , alias kalau memang rejeki/jodohnya, insyaAllah akan diberi jalan. Ini saya katakan karena saya merasa benar-benar tidak bisa mengerjakan di tes matematika saat itu. Dari sekitar 33 soal, hanya 9 yang saya isi dan hanya 3~5 yang saya yakin jawabannya benar. Entah peserta yang lain ^^;

Untuk bahasa Inggris, hanya text nya yang sangaat panjang dan memakan waktu. Jadi asalkan bisa mengerjakan dengan cepat, harusnya waktu yang diberikan akan pas habis untuk menjawab semua soal. (i did all!!)

(pada tahun 2012 kalau tidak salah, dari seluruh peserta yang lolos dan mengikuti tes yang diselenggarakan di 5 tempat di Indonesia ini diseleksi lagi menjadi 70-an orang.)

>>> Wawancara : Akhirnya tes “terakhir” yang harus dilalui. (Hati merasa senang dan tidak percaya karena bisa lolos ke tahap ini, tapi juga ada sedih karena teman yang berjuang bersama di tes itu tidak lolos..) Tes ini dilakukan di kedubes Jepang di Jakarta. Jadilah saya yang udik dan biasa di kota kecil pergi ke pusat ibukota itu. Saran saya sih cuma… persiapkan yang terbaik. Pastikan sudah mendapat restu dari ortu dan juga sarapan. hehehe

#jangan sampai malah mual karena mabuk darat dan akhirnya dengan kondisi sempoyongan pergi untuk interview seperti saya#

Sebelum dipanggil satu persatu untuk wawancara, akan ada tes bahasa Jepang yang katanya sih hanya untuk “formalitas” saja. Dan memang saat itu kondisi bahasa Jepang kebanyakan dari kami masih nol besar. Jadi santai saja, deh. Tapi untuk tahun-tahun ini sepertinya kemampuan bahasa sangat diperhitungkan, jadi ada baiknya juga dipersiapkan ^^

yang saya ingat waktu itu : ada 3 orang yang berada di ruang interview. Satu orang Jepang, satu orang Indonesia, dan penerjemah. Saat itu saya cukup gugup. Ada yang selama interview memakai bahasa Inggris, tapi giliran saya mereka memakai bahasa Indonesia. fiuh… ada space dan waktu untuk saling berkenalan dengan sisa peserta yang ada di tempat waktu itu. Kami jadi saling share dan terbuka tentang isi wawancara masing-masing.

Pertanyaan, memang tiap orang berbeda. Awalnya hanya pertanyaan simpel seperti jumlah keluarga, hobi, dll. Lalu mereka mulai menanyakan isi formulir yang sudah saya tulis. Mengapa Jepang? Apa pendapatmu tentang Jepang? Apa yang ingin kamu lakukan setelah sampai di Jepang? Bagaimana kalau anda homesick? Katanya anda sudah diterima di universitas, lalu bagaimana? yah kira-kira seputar itu~ Saya juga ditanya, apakah bisa berbahasa Jepang? Saya bilang sedikit saja, karena memang sudah belajar di SMA. Lalu dia menyuruh saya bicara jikoshoukai (perkenalan diri). Kata-kata saya saat itu :

“Hajimemashite, Dyanie Amieta desu. Salatiga kara kimashita. 17sai desu. go-kazoku desu. Yoroshiku onegaishimasu”

[ perkenalkan, nama saya Dyanie Amieta. Asal dari Salatiga. Umur 17tahun. Anggota keluarga ada 5 orang. Salam kenal ]

saya rasa menghafal satu saja yang benar-benar simpel seperti ini sudah cukup ;p dan begitulah tes wawancara pun berakhir~

Hasil dari tes ini baru keluar pada bulan Desember 2012. Saat itu dari angkatan kami total ada 45 orang yang lolos (4 orang program S1, 21 orang program D3 dan 20 orang program D2). Urusan berikutnya ada mengurus paspor, dan visa akan diurus embassy. Ingat sekali waktu itu juga sempat mengurus tes2 kesehatan yang repotnya minta ampun hahaha

Jika semuanya lancar, keberangkatan ke Jepang biasa di awal bulan April.

 

Bagaimana bisa sampai di Jepang ?

Naik pesawat. lah. hahahaha

Untungnya program beasiswa ini sudah memberikan uang akomodasi ke Jepang juga. Jadi kami tidak perlu repot2 beli dan mengurusnya. Jujur, ini pengalaman ke luar negeri pertama buat saya juga. Banyak perasaan gugup dan khawatir pastinya, tapi semua tertutup excitement bersama teman-teman. ^^

Sekitar 8 jam perjalanan, kami sampai di Narita Airport. Disana ada tahap “imigrasi” yang cukup panjang dan melelahkan. Tapi asalkan semua berkas sudah siap dan tidak ada masalah dengan barang bawaan/paspor/visa kita tidak ada yang perlu dicemaskan. Untuk lebih lengkap bisa cek di post saya yang ini >>> link hello japan

 

Kehidupan di Jepang?

Secara ringkas, beginilah kisah hidup saya di Jepang 3 tahun kebelakang ini..

2 April 2013 : Tiba di Jepang, Upacara penerimaan murid baru sekolah bahasa Jepang (nihongo gakkou) Bunka Institute Language

Maret 2014 : Lulus sekolah bahasa Jepang

April 2014 : Masuk sekolah kejuruan (senmongakkou) Dressmaker Gakuin selama dua tahun

Maret 2016 : Lulus sekolah kejuruan (tidak pakai skripsi, tapi tugas akhir. Setiap sekolah berbeda-beda. Misalnya jurusan perhotelan : TA membuat restoran, jurusan arsitek / desain : merancang bangunan atau produk seperti yang sudah dipelajari lalu di exhibition kan. TA Jurusan ku : ikut dalam fashion show sekolah)

April 2016 : Mulai bekerja di perusahaan yang dilamar sejak bulan Desember 2015 >> seharusnya lebih awal lebih baik karena harus mengurus perpindahan visa ke student visa menjadi working visa

 

Awal kehidupan di Jepang?

wah… tampaknya masih banyak yang ingin diceritakan. tapi mungkin kita pause dulu sampai sini >.<

sore jya!

 

Manner saat Memakai Kimono

Ada tata krama / manner tersendiri saat memakai kimono. Meski sudah memakai kimono yang cantik dan elegan, kalau tidak mengikuti manner ini pasti akan membuat keadaan menjadi “awkward” atau dianggap tidakpantas, waduh ^o^;

Selain untuk menampilkan kimono secara maksimal, kita juga bisa tampak lebih anggun daripada cewek yang memakai kimono manapun. Nah, simak ulasan nya dibawah ini yaa

Ojigi di depan genkan

玄関先でのおじぎ

[genkansaki de no ojigi)

11

Saat kita berkunjung ke rumah seseorang, ada yang harus dilakukan sebelum memencet bel. Kalau saat itu memakai stole/scarf, pastikan untuk melepasnya dulu, dan semua barang bawaan di bawa di depan. Sampirkan stole/scarf nya di tangan sebelah kiri.

Saat sudah naik ke genkan, letakkan barang bawaan dan beri salam/aisatsu sambil melakukan ojigi (bow/membungkuk). Saat melakukan ojigi ini, memanjang-manjangkan salam dianggap tidak baik, jadi hati-hati ya. Lalu ojigi saat berdiri juga harus diperhatikan agar tidak membungkuk terlalu dalam ke arah lawan bicara. Untuk perempuan, bungkuk sekitar 30derajat dan letakkan kedua tangan di depan dengan telapak kiri diatas kanan. Jangan sampai saat membungkukkan badan hanya kepala yang bergerak ya, hehe

Cara melepaskan alas kaki

履き物の脱ぎ方

[hakimono no nugikata]

12

Pertama kali saat di genkan (yang ada undakan nya), bawa berat badan ke depan, dan lepas zouri / sandal Jepang nya satu persatu. Sejajarkan kaki dan naik ke atas undakan. Setelah naik, barulah miringkan badan dan dengan tangan kiri memegang lengan baju tangan kanan, rapikan sandal yang sudah dilepas tadi (menghadap ke luar). Meski ada pendapat yang mengatakan bahwa sandal dirapikan dahulu baru dilepas terlihat lebih baik, sebenernya itu melanggar tata krama. Ohya, cara melepas ini juga sama meski di genkan tidak ada undakannya.

Memberi salam di ruang washitsu

*ruang tatami bergaya Jepang

和室でのあいさつ

[washitsu de no aisatsu]

13

Saat melewati ruang tamu, pertama tunggu dengan duduk geza (jongkok) dan beri salam. Saat bergerak/berpindah, jangan sampai menginjak garis tatami (heri) dan juga bantal tempat duduk (zabuton). Jangan naik ke zabuton dulu. Urutan duduk nya adalah, pertama jongkok di samping atau di belakang zabuton, lalu tepuk sedikit bantalannya sehingga kita bisa duduk di tengah-tengah. Lalu saat akan pindah, bukan dengan berdiri tapi dengan menggerakkan lutut, jadi tidak ada perubahan / pergerakan yang terlalu besar. Tata cara salam saat sudah duduk yaitu ; letakkan tangan membentuk segitiga di depan lutut dan menunduk. Kalau bawa oleh-oleh, berikanlah setelah selesai memberi salam. Keluarkan  isi dari furoshiki/pembungkusnya, lalu berikan dengan kedua tangan, tampilan depan menghadap orang yang dituju. Memberi salam sambil berdiri saat lawan bicara masih duduk dianggap tidak sopan, jadi hati-hati ya ^.^;

Tata cara duduk di Zabuton

*bantal tempat duduk ala Jepang

座布団のマナー

[zabuton no manna-]

14

Zabuton menandakan simbol “silahkan duduk disini”, jadi kita tidak boleh sembarangan bergerak setelah duduk. Setelah bergerak dan langsung duduk juga tidak boleh. Saat duduk, tahan diri untuk tidak memegang zabuton nya da duduk dengan tegap! >:) Bahkan kasus dimana kita datang bertamu untuk meminta maaf, ada yang memilih untuk turun dari zabuton untuk menunjukkan rasa ketulusan. Seperti yang disebutkan tadi, sebelum duduk kita memberi salam di sebelahnya, barulah duduk dengan imej membawa seluruh badan secara langsung. Saat berdiri, boleh memakai tangan dan berdiri atau pindah miring ke samping. Yang penting duduk tepat ditengah dan jangan bergerak dari posisi itu, Ok!

Cara berdiri di ruang washitsu

和室での立ち方

[washitsu de no tachikata]

15

Nah, sekarang kita bahas cara berdiri dari duduk dengan lebih detail. ^^ Pertama, angkat tumit satu per satu. Bila kedua tumit sudah siap berdiri, maka pantat akan terangkat dengan sendirinya. Point nya adalah posisi kaki tetap rapi setelah mengangkat tumit. Lalu angkat sebelah lutut sedikit. Saat itu ada kemungkinan kimono akan sedikit tersingkap, jadi lakukan sambil tahan kimono dengan tangan. Bila berdiri dimulai dari kaki kanan, kita bisa berdiri dengan cantik ^^

Cara duduk di kursi

椅子の座り方

[isu no suwarikata]

16

Untuk yang tidak terbiasa mengenakan kimono, pasti cara duduk akan menjadi berbeda. Misalnya ketika memakai furisode yang lengannya panjang menjuntai kebawah, pasti rasanya tidak enak kalau dia jatuh kebawah mengepel lantai kan..? ^o^ Nah apa saja sih yang harus kita perhatikan?

Pertama, berdiri di sebelah kiri kursi. Tarik pegangan kursi sedikit, dahulukan kaki kanan di depan kursi dan ikuti dengan kaki kiri. Setelah berdiri di depan kursi masih dengan ujung kimono yang teratur, duduk dengan dangkal secara perlahan. Badan dan kaki menghadap lurus ke depan, kedua tangan diatas lutut. Tidak perlu memakai sandaran kursi karena bisa merusak obi. Jangan bermain kaki karena bisa merusak pakaian sama halnya dengan memakai baju biasa. Lalu, saat ada orang yang dihormati/lebih tua (prior) masuk kedalam ruangan, segera berdiri, dan baru boleh duduk lagi setelah orang tersebut sudah duduk.

Tata cara makan

食事編

[shokuji-hen]

17

Saat makan dengan kimono, kita harus berhati-hati agar makanan tidak tumpah dan mengotori kimono nya. Pastikan ada sapu tangan yang besar dan letakkan di atas di atas lutut. Untuk yang khawatir makanan nya akan mengotori tidak hanya bagian bawah saja, disarankan juga untuk memakai apron kimono. Mudah dibawa kemana-mana dan praktis. Yang perlu diperhatikan, saat akan mengambil makanan, tahan bagian ujung lengan agar tidak mengenainya. Kalau tidak menahan ujung lengan, kemungkinan makanan jatuh atau terkena noda sangat besar. Selain itu memegang ujung lengan juga berfungsi untuk menutupi lengan. Lengan yang tidak terlihat dianggap cantik, jadi kalau bisa disembunyikan yah ^^~

Saat makan makanan penutup / dessert, pastikan jarak nya tidak terlalu jauh ataupun dekat. Lalu makan dengan suapan-suapan kecil. Katakan “chodai shimasu” dan makan potongan kecil, lalu barulah nikmati makanannya.

Homemade Temari Sushi

A few days ago I’ve participated in an event of making “Temari Sushi”
I still don’t know what it was until I came to the place, and finish it until the end. “Sushi” on my mind is just a lump of rice and we just put something on the top of it. Whether it’s a seafood, eggs, or vegetables. But it cames up that there’s more than it.
So here are the steps.

1. Everything start from rice


Yes! We can’t deny that the main flavour of sushi are exist in the rice we’ll use. If you want to make sushi, make sure to cook the rice with less water so the texture will be good enough for the next step

2. Pour the vinegar and stir the rice

With powers on your hands, stir and stir the rice with rice-spoon while pouring the vinegar until it blend in thoroughly. Don’t let some vinegars left.

3. Making the rice ball

 

If the vinegar-ed rice done, I recommend you to taste it a little bit. You’ll find that the rice is tasty enough, and if you sprinkle fish, ikura, nori or eggs you can make a chirashi sushi already. (Chirashi ~> 散らす spread, scatter)

But we’re going to make temari sushi, (手毬~> hand-ball) that’s why we have to make the rice ball first. Use plastic gloves and shape the rice neatly. The size is up to your preference.

4. Mixing the sushi


Finally the main ingredient is ready! With the other stuffs like sliced fish (if you like it nama : raw) sliced cucumbers, lemons, leaves and all, time to put it up together as you like.

After you place the stuffs on the top of the rice, wrap it up with plastic and wring/squeeze it a little to make sure the sushi and the stuffs sticked firmly.
Ja ja ja jaaan ~



Here’s the look of the temari sushi that we made. I think it’s so fun making it while thinking on the looks, while wondering how the taste would be. Afterall that was a good experience to be able to learn it from the professional and eat it together with new friends ^^

  
*thanks to Manekineko Yotsuya San-chome, and Halal Recipes Japan who made this event, plus we got a mayonnaise as souvenirs and karaoke for some hours. Hehehe*
Actually here’s the real recipe. I’ve just found it when i finishined typing it, well so whatever. wkwkwk

Tentang Kimono dan Jenisnya

hai hai ^^

disini saya mau menge-share sebuah tulisan / report mengenai kimono yang sebulan lalu dibuat sebagai tugas untuk semua pekerja baru di perusahaan tempat bekerja saya sekarang, Wagokoro…

*saya juga baru tahu kalau sebelum 入社式 nyuushashiki/upacara masuk perusahaan saja ada tugas nya. ck ck ck*

Mungkin masih banyak kekurangan dan bahasa yang terlalu kaku. Masalahnya adalah : saya bingung harus memakai EYD yang seperti apa, karena tugasnya dikumpulkan ke kantor yang memerintahkan untuk membuat dalam bahasa Jepang dan Indonesia. Nah, ya beginilah kira-kira jadinya. Silahkan dibaca untuk sekedar menambah pengetahuan, siapa tahu suatu saat akan bermanfaat. hehehe

Sebagai tambahan, sekarang saya juga sedang memegang suatu page di FB bernama

Kyoto Kimono Rental Wargo bahasa Indonesia

juga akun instagram @kyotokimonorental.id

duh panjang yaa hahaha. Silahkan dicek, ada bermacam postingan saya yang lain terutama tentang Jepang, budaya, bahasa dan tentu saja kimono~

Masih harus banyak belajar. osh! ^^

わたくしも、まだまだ勉強しないと。。。オス!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kimono 着物

Barang 物yangDipakai 着oleh

Orang Jepang Sejak Dahulu

Kimono itu apa ya?

Kalau orang asing ditanya, pasti tidak bisa menjawab dengan yakin  apa itu perbedaan kimono dan yukata. Kimono itu sebenarnya apa? Apakah kimono dan yukata itu sama? Kimono itu dipakai saat event apa? Disini, agar semua lebih tahu dengan jelas tentang kimono, akan dijelaskan secara detail dan mudah dipahami. Jenis-jenis kimono, size dan pengukuran kimono, lalu mengenai Yuuzen-dyeing serta jenis dan ciri khasnya akan disampaikan semuanya. Karena kalua tidak kenal maka tak sayang, yuk sedikit demi sedikit mengenal dan masuk ke dunia kimono lebih dalam!

Jenis Kimono dan Tingkatannya

Kimono selain sebagai pakaian khas/adat Jepang, dalam dunia internasional sangat dikenal sebagai salah satu ikon Jepang yang paling diketahui orang di seluruh dunia.

Jepang… = kimono!

Kalau orang asing disuruh untuk berpikir tentang Jepang, pasti  [kimono] adalah salah satu kata kunci yang keluar paling banyak. Tidak peduli dari negara manapun, bahkan mungkin sekitar 80% orang di dunia tahu, sebegitu hebat nya eksistensi kimono itu. Tapi, kimono yang selama ini kita tahu itu sudah benar belum ya?

Yakin deh pasti kata kimono udah sering dengar, tapi sebenarnya jenis kimono bermacam-macam,lho. Ada houmongi, furisode, tomesode, dan lain sebagainya. Secara gampangnya, kimono itu dikelompokkan berdasar orang yang memakai dan event saat memakainya. Disitu ada “tingkatan” kimono dari yang paling tinggi sampai bawah. Disini kita akan bandingkan empat jenis yang paling  mewakilkan jenis didalamnya.

Houmongi

訪問着(ほうもんぎ)

訪問(call , visit)着(wear)

Houmon (mendatangi) gi (memakai/pakaian)

houmongi

Houmongi adalah baju semi formal yang dapat dipakai oleh wanita yang sudah atau belum menikah, hampir sama dengan irotomesode yang bisa dipakai ke tempat dan event-event formal. Seperti evening dress dalam budaya baju barat. Sekilas meski tampak mirip dengan irotomesode, ciri khasnya adalah motif kimono yang semarak tidak hanya di bagian bawah, tapi juga di bagian leher, dada dan lengan. Sangat cocok digunakan saat acara pernikahan, pesta, event di tempat kerja, upacara minum teh, resital musik, presentasi/seminar, atau saat menjadi penonton acara kabuki.

Kalau furisode melambangkan “anak perempuan yang telah menjadi dewasa”, maka houmongi melambangkan mulainya kehidupan baru. Orang tua memberi houmongi untuk menggantikan furisode yang dipunyai anak perempuannya sebagai hadiah pernikahan adalah suatu kebiasaan disini. Lalu, seperti ditulis sebelumnya, houmongi memang biasa dipakai saat acara pernikahan namun bukan seperti tomesode yang dipakai saat pernikahan keluarga dekat, tetapi relative yang agak jauh atau teman.

Furisode

振袖 (ふりそで)

振り(wave, swinging)袖 (sleeve)

Furi (berkibas) sode (lengan)

Furisode biasa merujuk pada kimono yang memiliki sode panjang, dan merupakan pakaian tingkat paling atas untuk perempuan yang belum menikah. Motifnya banyak yang sangat cerahceria dan berjiwa muda, dan biasa dipakai ke acara meriah seperti hari kedewasaan (seijin shiki) atau pernikahan (sebagai tamu atau pengiring pengantin). Menurut panjang lengannya, dibedakan menjadi dai-furisode, chu-furisode, dan ko-furisode. Semakin panjang lengannya semakin tinggi nilai prestisnya, yang mencapai 114~124 cm atau semata kaki juga ada, lho.

Di Jepang, ketika menginjak umur 20 tahun (seijin), menandakan bahwa orang itu sudah dewasa. Mereka akan berpartisipasi dalam upacara kedewasaan dan sebagai hadiah orang tua memberi furisode untuk anak perempuannya. Tapi karna harganya yang sangat mahal, ada juga yang hanya menyewa furisodenya, atau memakai suit / baju formal biasa. Budaya Seijin Shiki ini sangat menarik perhatian para turis dan orang asing di Jepang, bahkan banyak yang sengaja datang untuk merasakan sensasinya.

Tomesode

留めそで (とめそで)

留 (halt, stop)  袖 (sleeve)

Tome (berhenti) sode (lengan)

kurotome

irotome

Tomesode masih dikelompokkan lagi menjadi kurotomesode dan irotomesode. Memiliki ciri khas berupa crest yang jumlahnya menunjukkan tingkatannya. Lalu motif kimono nya hanya di bagian bawah saja.

Kurotomesode adalah pakaian dengan tingkat paling tinggi untuk wanita yang sudah menikah. Biasa digunakan pada saat-saat yang sangat special seperti pernikahan anaknya. Kurotomesode bersifat ceremonial dan mempunyai 5 crest di punggung, dan dua di bagian dada juga lengan. Crest di punggung menandakan leluhur, di dada untuk kedua orangtua dan di lengan untuk saudara serta kerabat dekat.

Kalau irotomesode, bisa digunakan oleh perempuan yang sudah maupun belum menikah. Hampir sama seperti evening dress dalam budaya barat, tapi tidak ada keterbatasan waktu, jadi tidak masalah dipakai saat siang ataupun malam hari.

Yukata

浴衣 (ゆかた)

浴(bath )  衣 (clothes)

Yu (mandi) kata (pakaian/kain)

Adalah kimono yang paling kasual, dan biasa dipakai saat musim panas. Asal mulanya hanya  dipakai oleh orang yang berstatus tinggi seusai mandi, tapi sekarang sudah berubah dan bisa dipakai oleh siapapun, dimanapun, kapan saja. Saat festival, melihat kembang api, atau berjalan-jalan di kota sekalipun.

Jadi kesimpulannya yukata adalah salah satu jenis kimono. Yang membedakan hanyalah penggunaan dalaman kimono atau tidak. Lalu yukata boleh dipakai langsung ke kulit, setelah habis mandi, juga saat tidur tetapi tidak dengan kimono.

 

Ukuran Kimono

Ada sedikit perbedaan dengan ukuran dan cara pengukuran antara kimono dan baju pada umumnya (youfuku). Kalau kita membicarakan ukuran kimono, kita tidak menggunakan cm atau meter, tetapi shaku尺 (しゃく : 30.3 cm)、sun寸(すん : 3.03 cm)、bu分 (ぶ : 0.3 cm) dan rin厘(りん:0.3mm). Banyak pendapat mengenai cara pengukuran kimono, tetapi sebenarnya tidak terlalu detail pun tidak masalah. Saat memilih kimono yang sudah jadi, sangat penting untuk memilih dengan ukuran yang pas untuk kita. Jadi disarankan untuk memilih dengan standard seperti berikut.

Tinggi Badan dan Panjang Pakaian

Untuk perempuan, kimono dengan panjang yang hampir sama dengan tinggi badannya itu sudah pas. Asal jaraknya hanya sekitar 5cm dari tinggi badan pemakai, kimono bisa dipakai tanpa perlu dipaksakan. Contohnya, orang dengan tinggi badan 155cm maka panjang kimononya lebih baik memilih dengan panjang sekitar 150~160cm.

Untuk laki-laki, karena tidak ada curve atau lekukan badan, maka berbeda dengan standar ukuran untuk kimono perempuan. Untuk kimono laki-laki, panjang kimono = tinggi badan – sekitar 25cm adalah ukuran yang pas.

Yuki

Yuki adalah sebutan untuk ukuran panjang dari titik tulang di bagian belakang punggung hingga pergelangan tangan pada saat tangan dalam posisi direntangkan kesamping., dengan perkiraan (+5cm) sampai (-5cm). Bisa dibilang, saat memilih kimono ukuran yuki ini lebih penting daripada panjang kimono (karena dia tidak bisa dilipat).

Lebar depan dan Lebar belakang

Saat ingin membuat kimono, kita harus memutuskan lebar pinggang bagian depan da belakang. Secara garis besarnya, ukuran pinggang itu adalah lebar depan + (dua kali lebar belakang) + okumi (sekitar 15cm). Kalau angkanya mendekati ukuran tersebut maka sudah Ok.

 

Pengukuran Kimono

Saat ingin membuat kimono dengan ukuran sendiri (seperti order made), maka diperlukan ukuran-ukuran dibawah ini. (1)tinggi badan、 (2)lingkar dada、(3)lingkar pinggang、(4)yuki 、dan  (5)panjang lengan.  Dengan kelima ukuran ini, perusahaan pembuat kimono akan membuat kimononya dengan standar yang dimiliki masing-masing untuk menciptakan ukuran kimono yang pas. Jadi sebisa mungkin saat melakukan pengukuran pun harus seakurat mungkin, ya.

Pembuatan Kimono

Pembuatan kimono disini berarti membuat kimono dari bahan kain yang sudah jadi atau sudah selesai dibuat menjadi bermacam-macam jenis kimono / wafuku.  Saat ingin membuat kimono, hal pertama yang harus ditentukan adalah [bahan/material kain], [jenis kimono/wafuku yang ingin dibuat], dan [ukuran/dimensinya]. Kemudian kimono yang sudah dibayangkan image nya dipastikan apakah bisa dibuat dengan kain yang kita miliki atau tidak. Lalu dengan saran dari pembuat kimono, dimulailah pembuatannya.

Kimono berbeda dengan pembuatan baju biasa yang memiliki bentuk/ berdimensi. Dia hanya dibuat dengan kain yang dipotong secara lurus dan dijahit satu sama lain. Namun meski cara menjahitnya pun hanya berupa garis lurus sekalipun, dibutuhkan skill yang sangat tinggi, lho. Dengan skill yang hebat ini, kimono bahkan disebut bisa digunakan untuk tiga generasi.

Urutan pembuatan kimono yaitu, pengecekkan > pengukuran shaku > persiapan kain/material > membayangkan pola > menyesuaikan motif > pemotongan kain > memasang hera >pengecekkan lagi. Begitulah garis besar prosesnya. Tapi seperti disebutkan sebelumnya, jenis kain, jenis kimono yang ingin dibuat dan ukuran harus sudah ditentukan dulu, ya.

 

Yuuzen-zome

友禅染め

Yuuzen-zome adalah salah satu tehnik dyeing kerajinan Jepang yang bersejarah, dikatakan bahwa orang yang memikirkan tehnik ini pertama kali adalah orang yang memiliki banyak misteri bernama Miyazaki Yuuzensai. Awalnya tehnik ini digunakan oleh sang pendeta Buddha itu untuk menghiasi kipas lipat di era Edo. Khasnya adalah menggunakan lem, lalu dengan bahan pewarna digambarlah lanskap tanaman dan hewan yang indah.

Yuuzen-zome dengan tangan yaitu membuat selembar demi selembar motif kain dengan keterampilan sang pengrajin. Kalau mau dibedakan secara garis besar, yuuzen-zome terbagi menjadi moto-yuuzen (secara basic) dan kata-yuuzen (dengan cetakan). Di masa modern ini yuuzen dapat diciptakan dengan print inject. Melalui cara ini, produksinya dapat dilakukan secara massal.

Jenis-jenis Yuuzen-zome

Yuuzen-zome kembali dikelompokkan berdasar daerah dan fitur yang dimilikinya

Kyou-yuuzen (Kyoto) 京友禅(京都)

Kyou-yuuzen adalah tehnik yang sangat dipengaruhi oleh Miyazaki Yuuzensai. Dalam satu kata,  kata “elegan” mungkin kata yang paling tepat. Warna yang sering digunakan adalah warna-warna cerah seperti merah, hijau, biru pucat dan merah muda. Sangat glamor dan motifnya banyak yang bersinar dan besar  hingga terlihat dari jarak jauh.  Mewah dalam dedaunan perak dan emas serta bordir juga ditandai dengan pola desain bergaya brilian. Sering menjadi pilihan para bangsawan, putri dan ratu.

Kaga-yuuzen (Ishikawa) 加賀友禅(石川)

Kaga-yuuzen dikatakan didapat sebagai suaka dari Klan Kaga ketika Miyazaki Yuuzensai pindah dari Kyoto ke Kaga. Warna yang sering dipakai disebut sebagai Kaga lima warna, yaitu (merah, kuning tua, hijau, nila, ungu) yang merupakan karakteristik untuk warna dasar. Motif nya lebih kalem dengan fokus pada alam, seperti foto rumput, bunga, burung, terutama motif “daun dimakan ulat” yang sangat khas. Biasa digunakan oleh para samurai.

 

source : bermacam website di google, Kimono Rental WargoWagokoro Inc., etc

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sekian kiranya bab 1 tentang serba-serbi kimono dan jenisnya ini (ehh, baru bab 1? emang ada bab 2 nya? hmm yaa kita lihat kondisi kedepan insyaAllah ^^;)  Karena sebenarnya masih ada lebih banyak jenis kimono seperti komon, hakama, dll yang mungkin tidak akan habis dibahas secara detail satu per satu.  Semoga bisa terealisasikan di post selanjutnya, aamiin.

Jadii, untuk para pecinta kimono dan budaya Jepang, silahkan saling bertanya atau beri masukan disini yaa.. Sore dewa, mata!

 

Fashion Passion Movie

I’ve just watched a movie, maybe like hours ago.

It’s not a new movie or a title that maybe you have ever heard before, but then I want to share it to you who might have an interest to this theme. Yup, fashion.

If I would say, I prefer movies from Japan than Western. I didn’t know the exact reason. I like both and other genre movies from any countries too, but there is always a deep meaning / a life lesson that I can take more from the Japanese one.

Well I guess everybody have their own preference , don’t they? 😀

So here are three of them that I want to recommend. I would be veeeeery happy if you would share or suggest me the other good ones too! 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Runway Beat

runway-beat-movie-tickets-giveaway-otaku-house-0

see more -> asianwiki

summary :

The story is about the main character, Biito Mizorogi 美糸 or called “Beat” (the Japanese pronounce of beat = biito, and fun fact is that the Kanji of bi-ito means beauty and thread) and his new school. Together with his classmates they’re going to organize a fashion show on the cultural festival. The main actor and actress are Koji Seto, Nanami Sakuraba and Mirei Kiritani.

my review :

This is the one that I’ve just watched! So before I forget about this movie and how I felt after it, I decided to write it down here. 

 “Excited” yes, that one word. It’s true that I love to watch a movie, moreover about fashion, or dreams, friendship and all. But this one really made me who’ve graduated from my 2-year study in fashion college, really wanted to turn back time so I can study more, more.. It gives me spirit to go back to clothes making world once again… or maybe someday. Thanks to it I felt like I’ve regain my passion back ^^

A one must-see movie about fashion, full of the sense of youth and Japanese pure dreams and school love story. Worth to see!

 

Paradise Kiss

20110613_suzu_02

see more -> asianwiki

summary :

I guess many have ever heard or watched this movie before. It was a live action version of Ai Yazawa’s masterpiece. The manga and anime with the same title was big hit in Japan too. 

The story tells about an ordinary high-school student Yukari Hayasaka, who suddenly get ‘scouted’ as a model in final project of a group fashion design students. The beautiful Yukari is played by Keiko Kitagawa, and the main actor George ‘Joji’ by Osamu Mukai.

my review :

Sweet and spicy. (What does that mean?? Watch and you’ll know it >.<)

I really appreciate how this movie successfully bring out the ‘imaginary land’ of the author. Especially, how we can see the real condition of Japanese teenagers, their unique styles, and a sneak peek of fashion college life. Yup, I was still in Indonesia when I watched this movie for the first time. After came to Japan and spent 2 years in my school, I felt like I was drown into the movie-world itself everytime I watch it over again. It’s a good movie for whoever who like japanese-fashion, or they’re who looking for design/modelling themed movie for reference.

 

 Real Clothes

real_clothes_2009_565

see more -> asianwiki

summary :

This movie is kind of like “The Devil Wears Prada” movie in Japanese version. The main story is about a woman named Kinue Amano (played by Karina) who know nothing about fashion yet she have to change her job as a sales clerk position from futon/bed to clothing division. Of course with many hurdles and scary boss ahead, she’ll transform to be a new person. . .

my review :

Interesting enough. But the story a little bit slow, and maybe it tells much about the reality of fashion business world, clothes coordination or styling and stuffs. It could be a good lesson to know about Japanese working life culture, or just to study Nihongo especially in ‘keigo’ or polite form / way of talking. It really helped me when I was on my first part-time job in a clothing store. hehehe

After all, it’s really a good fashion library of the Japanese fashion trend. I do really enjoying the coordination that Karina wears in every episodes. ^^

 

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Done with the movie review this time~~

I’ll try to remember some others good movie that I will post here.  Sore jyaa